Nov 24

This Confession’s note is for anyone… Fuck it, Just shut up and read it…!

Category: Uncategorized

Beberapa tahun yang lalu Aku melihat kematian telah merenggut seseorang yang paling Aku cintai. Saat itu Aku tahu bahwa kehangatan tubuhpun tidaklah serta merta pergi meninggalkan jasad yang baru saja mati. Begitu pula halnya dengan ‘ingatan’, kita tidak bisa memaksa diri untuk melupakan hal-hal yang ingin kita lupakan. Ingatan terhadap pergeseran dan perubahan yang kita alami akibat gesekan-gesekan - yang kita sadari atau yang kita sama sekali tidak menyadarinya – tidak dapat begitu mudah kita lupakan.

Yang sungguh Aku inginkan adalah lupa akan segalanya. Tapi, semakin Aku berusaha melupakan semua kejadian yang pernah kita lalui, semakin jelas ingatanku terhadap hal itu. Kini Aku sadar, semanis apapun kenangan yang pernah kita alami bersama terasa sangat pahit dan menyesakkan saat kenangan itu teringat kembali. Karena kenangan yang semakin diingat akan semakin jauh tak tersentuh. Absurb memang hidup ini; lahir bukan atas kehendak diri sendiri, ditakdirkan pula untuk mati, untuk lupapun Aku tak mampu.

Lupa dan ingat adalah dua hal yang tak bisa jalan bergandengan. Di saat lupa maka tak mungkin Aku ingat. Saat ini Aku masih ingat Kau sebagaimana Kau masih senang untuk mengingatku. Saat butuh Aku datang padamu sebagaimana kaupun sering datang kepadaku. Esok lusa siapa tahu untuk menyebut namaku pun Kau enggan, atau saat memandang wajahku tak terasa mulutmu selalu ingin meludah…. Cuiiih…!

Mungkin Kau lupa bahwa aku pernah menorehkan tinta penaku dalam lembaran hidupmu, apapun itu yang pasti bukan lumut di atas batu. Pada awalnya Aku tak tahu bahwa coretan ini adalah suatu kehendak untuk ‘sekedar’ seperti halnya hubungan kita pada awalnya. Namun ternyata Kau telah lupa bahwa hidup bukanlah untuk ‘sekedar’, ia adalah sebuah kebenaran yang harus dijalani secara serius. Apapun dan siapapun Kau nanti, seperti biasa Aku selalu di sini di antara penghuni Dunia Labirin tanpa batas ini.

1 comment